Cari Blog Ini

Senin, 06 Agustus 2012

CERPEN Detik Terakhir



      Detik Terakhir

“Gue nggak ngerti kenapa Deva tiba-tiba mutusin gue, apa dia emang udah gak sayang lagi ama gue? Atau mungkin Deva suka sama cewek lain? Tapi siapa cewek itu?” kata Ayu, yang baru saja diputusin oleh Deva pacarnya. Mereka memang sudah lama pacaran, tapi Ayu bingung kenapa tiba-tiba Deva mengambil keputusan untuk putus darinya. Padahal Ayu sangat mencintai Deva, dan ia tak mau putus darinya.

            Esoknya, setelah Ayu putus dari Deva. Ayu berangkat ke sekolah dengan perasaan yang kacau. Raut mukanya melukiskan hatinya yang kosong, kini Ayu hanya bisa mengenang masa-masa bahagianya dengan Deva dulu. Tiba-tiba ia mendengar teriakan yang memanggil namanya.
            “Ayu…..Ayu….” Ayu menoleh kebelakang mencoba mencari suara teriakan itu. Dan ia melihat sahabatnya, Olive. Ayu dan Olive memang bersahabat sejak hari pertama mereka masuk ke SMU tepatnya saat MOS.
            “Ayu loe beneran putus ama Deva kemarin? Terus kenapa Deva mutusin loe? Loe ama Deva kan udah pacaran dari dulu kenapa bisa kandas gitu aja? Loe terima diputusin gitu aja ama Deva? Loe masih cinta kan ama Deva?” tanya Olive bertubi-tubi pada Ayu sahabatnya itu.
            “Aduh loe bikin gue makin pusing aja deh, Liv” kata Ayu.
            “Ih, loe tinggal jawab aja susah amat sih,” sahut Olive.
            “Iya, loe bawel banget,” sambung Ayu makin terlihat sedih.
            “Cepet gue penasaran nih,” jawab Olive.
            “Iya, gue udah putus ama Deva. Tapi gue gak tahu kenapa Deva mutusin gue. Sebenernya gue masih sayang ama Deva. Hati gue rasanya hancur berkeping-keping, Liv,” kata Ayu sambil meneteskan air mata.
            “Loe sabar ya, Yu gue pasti bantuin loe, supaya loe bisa balikan lagi ama Deva. Gue juga yakin Deva pasti juga masih sayang kok sama loe.” kata Olive menenangkan Ayu.
            “Makasih ya, Liv loe emang sohib gue yang paling baik sedunia,” jawab Ayu.

            Satu bulan telah berlalu, perasaan Ayu semakin gelisah, karena setelah ia putus dengan Deva, Deva tidak pernah hadir disekolah, Deva selalu absen selama satu bulan penuh. Ayu makin khawatir jikalau Deva kenapa-napa.
            “Duh, Deva gak masuk lagi,” gerutu Ayu dalam hati.
            “Kenapa loe? Lagi mikirin pangeran loe ya?” tanya Olive yang dari tadi melihat Ayu melamun.
            “Iya, nih. Dia kok nggak masuk lagi, sekarang udah sebulan dia gak masuk. Apa dia pindah sekolah ya?” kata Ayu.
            “Ah, nggak mungkin di papan absen tertulis kalau Deva gak masuk karena izin keluar kota, jadi Deva gak mungkin pindah sekolah. Tapi, kalau Deva pindah sekolah pasti ada pemberitahuan dari Bapak Kepala Sekolah,”  jawab Olive.
            “Loe bener juga, Liv. Tapi kenapa keluar kotanya lama banget ya?,” kata Ayu lagi.
            “Mungkin acaranya penting kali,” jawab Olive.
            “Masak ada acara yang lamanya sampai sebulan sih, mustahil gak?” sahut Ayu.
            “Loe bener juga. Gimana kalau nanti kita cek ke rumahnya Deva, gimana?” seru Olive.
            “Gue setuju!!” kata Ayu bersemangat.

            Sepulang sekolah Ayu dan Olive benar-benar ke rumah Deva, mereka ingin tahu kenapa Deva tidak masuk selama itu, mereka kurang percaya kalau Deva hanya keluar kota. Sesampainya di rumah Deva, mereka hanya bertemu dengan tukang kebunnya Deva, karena di rumah itu sangat sepi.
            “Permisi, Pak, Devanya ada? Saya Ayu temannya Deva,” kata Ayu dengan sopan.
            “Bukannya kamu pacarnya Gung Deva? Devanya tidak ada di rumah,” kata tukang kebun itu.
            “Bukan lagi, Pak. Kita sekarang cuma temenan aja. Kita udah putus sebulan yang lalu. Kalau boleh saya tahu Deva dimana sekarang, Pak?” sahut Ayu.
            “Deva ada di rumah sakit. Ayu nggak tahu?” kata tukang kebun Deva. Mendengar ucapan tukang kebun itu Ayu langsung kaget setengah mati dan terdiam sesaat. “Sakit Deva sangat parah Ayu, kata mamanya Deva mengidap penyakit kangker otak stadium empat. Dan umurnya sudah nggak lama lagi.” kata tukang kebun itu lagi.
            “Apa?” kata Ayu kaget. “Dimana rumah sakit tempat Deva dirawat? Tolong beritahu saya Pak, saya sangat khawatir dengan keadaan Deva sekarang? kata Ayu terburu-buru.
            “Deva dirawat di Rumah Sakit Harapan Kita,” kata  tukang kebun itu lagi.

            Ayu dan Olive tanpa berfikir panjang lagi, langsung menuju ke rumah sakit. Ayu sepanjang perjalanan hanya bisa menangis dan kecewa, kenapa Deva tidak jujur tentang penyakitnya selama ini. Padahal Ayu selalu jujur tentang masalahnya kepada Deva, tapi kenapa Deva tidak pernah jujur terhadap penyakit yang dideritanya selama ini. Apa mungkin karena ini Deva memilih putus dariku katanya dalam hati.
            “Udah dong, jangan nangis terus. Mungkin Deva gak mau ngeliat loe sedih terus, makanya dia nggak ngasi tahu loe penyakit yang dideritanya ini,” kata Olive mencoba menenangkan Ayu yang terus menangis sepanjang perjalanan.
            “Tapi, seharusnya Deva jujur ama gue, gue nggak bisa tenang diatas penderitaan yang dialami Deva, orang yang paling gue cintai di bumi ini, gue nggak bisa ngelupain dia begitu aja, Liv,” jawab Ayu sambil mengusap air matanya yang berlinang membahasi pipinya yang halus itu.
            “Gue ngerti perasaan loe, tapi loe nggak harus nangis gini. Kalo Deva ngeliat loe dia juga bakalan ikut sedih. Deva kan masih cinta sama loe,” kata Olive lagi. Ayu hanya terdiam.

Tak lama kemudian mereka sampai di Rumah Sakit. Lalu mereka berlari menuju kamar Deva, Deva tidak sendirian dia ditemani sahabatnya Ray dan Alvin yang juga akrab dengan Ayu dan Olive beserta keluarganya.
“Deva……,” seru Ayu dari ambang pintu, dia terkejut melihat Deva yang tergulai lemah di atas tempat tidur. Mukanya pucat. Ayu tak kuasa menahan air matanya, lalu berlari memeluk Deva dengan eratnya, Deva hanya bisa tersenyum manis dan mendekap tubuh Ayu yang mungil.
“Dev, kenapa kamu ndak jujur sama penyakit yang membuat kamu sangat menderita ini kepadaku, padahal aku ini kan pacarmu, kamu perlu tahu saat kamu mutusin aku secara tiba-tiba dan kamu absen selama sebulan penuh, perasaan resah, gelisah, sedih, kecewa berkecamuk menjadi satu. Setiap hari aku hanya bisa menangis dan menangis. Sekarang aku ingin tahu kenapa kamu gak jujur sama aku?” tanya Ayu menahan kesedihan kepada Deva.
“Maafin aku, Yu. Aku hanya nggak ingin kamu sedih ngeliat kaeadaanku sekarang, tapi apa boleh buat kamu udah liat kan keadaanku. Aku sakit, sakit parah. Lebih baik kamu tinggalin aku  sekarang sebelum kamu menyesal, umurku udah nggak lama lagi, aku akan pergi dan mungkin tak kembali,” kata Deva lemah.
Ayu menggelengkan kepalanya. “Gak, kamu gak bisa ninggalin aku sendirian aku gak bisa hidup tanpa kamu, kamu adalah semangat hidupku. Aku yakin kamu pasti bisa bertahan, demi aku dan hubungan kita,” Ayu mencium kening Deva dan menatap matanya dengan penuh kesedihan.
“Aku juga sangat mencintaimu Ayu, yang bisa membuat aku bertahan sampai sekarang itu kamu, tanpa kamu yang hadir mewarnai hari-hariku mungkin aku sudah pergi dari dulu dan kita ndak mungkin bisa saling mencintai. Selamat tinggal Ayu, aku akan selalu mencintaimu….,” itu adalah kata terakhir yang bisa terucap dari bibir Deva, lalu dia memejamkan matanya dan diam. Dia pergi, pergi tuk selamanya meninggalkan Ayu perempuan yang sangat dicintainya beserta keluarga dan sahabat-sahabatnya Alvin dan Ray.
Seisi ruangan saat itu menangis melihat orang yang selama ini menjadi kebanggaan keluarga dan teman-temannya itu pergi tuk selamanya. Ayu adalah orang yang paling berduka saat itu, sampai tidak bisa berkata apapun juga lalu pingsan tak bisa menerima kenyataan bahwa orang yang mengisi hatinya selama ini telah tiada. Pergi meninggalkannya, kini hanya tinggal kenangan indah yang ada di benak Ayu. Kenangan itu akan selalu ada sampai ajal akan menjemputnya kelak. Itu janjinya kepada Deva saat mereka bersama dulu.

Sebulan setelah kematian Deva, Ayu masih merasa kehilangan. Dia merasa separuh dari jiwanya hilang. Dia tak berdaya. Dia hanya bisa menangis, menangis, dan menangis setiap hari. Tak makan, tak minum, tak tidur, dia hanya memikirkan Deva dan kenangan indahnya bersama Deva dahulu saat mereka masih bersama.

Suatu ketika saat Ayu bersedih, tiba-tiba….. Ayu terjatuh dari tempat duduknya, ia lemas karena sudah berhari-hari ia tidak makan dan minum sedikitpun. Mamanya khawatir dan segera melarikan Ayu ke Rumah Sakit ditemani mamanya Deva yang telah menganggap Ayu seperti anaknya sendiri. Tak lama Ayu diperiksa, dokter keluar dengan menggelengkan kepalanya.
“Bagaimana keadaan anak saya, Dok?” tanya mamanya.
“Maaf, Bu. Kami sudah melakukan yang terbaik untuk anak Ibu, tapi Tuhan berkehendak lain,” kata Dokter yang menangani Ayu.
“Maksud dokter Ayu telah tiada,” kata mamanya Deva.
“Iya, Bu. Maafkan kami. Keadaan Ayu sangat lemah. Hal ini terjadi mungkin karena ia tidak makan dan minum. Hingga kami tak bisa menyelamatkannya lagi,” kata dokter lagi.
Kedua mama itu menangis mereka telah kehilangan kedua orang yang paling berharga dalam hidup mereka, yaitu Deva dan Ayu.
“Mengapa akhirnya menjadi seperti ini,” keluh mamanya Ayu.
“ Mungkin ini kehendak Tuhan,” kata mamanya Deva.

Begitulah akhir dari kisah percintaan Deva dan Ayu. Meskipun akhirnya keduanya meninggal, tapi cinta yang telah mereka bina selama bertahun-tahun lamanya akan tetap bersemi dan tecatatat  dalam sejarah cinta, dan hanya bisa dimengerti oleh orang-orang yang telah mengenal dan mengerti apa itu CINTA.

~ TAMAT ~




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar